Selasa, 24 Feb 2026

Cinta Allah yang Tak Pernah Padam: Renungan dari Nikmat Bangun di Pagi Hari

Admin Amina 26 Oct, 2025
Cinta Allah yang Tak Pernah Padam: Renungan dari Nikmat Bangun di Pagi Hari

Sering kali manusia lalai dari kewajibannya kepada Allah. Salah satu contohnya adalah ketika kita tidak bangun untuk melaksanakan salat Subuh. Padahal, salat Subuh adalah tanda cinta dan ketaatan seorang hamba kepada Rabb-nya. Namun meski kita sering lalai, Allah tetap memberi kita nikmat kehidupan di pagi hari, membangunkan kita dengan tubuh yang sehat, udara yang segar, dan kesempatan untuk memperbaiki diri.

Gus Baha’ pernah menyampaikan sebuah kalimat yang penuh makna:

“Kita pernah membuat Allah kecewa karena tidak bangun Subuh, namun paginya Allah masih membangunkanmu dengan tubuh yang sehat. Adakah cinta yang setulus itu?”

Kalimat ini mengandung pelajaran mendalam tentang kasih sayang Allah yang tidak terbatas. Sekalipun manusia berulang kali lupa, lalai, bahkan berbuat dosa, Allah masih memberikan nikmat kehidupan dan kesehatan. Ini menunjukkan bahwa cinta Allah jauh melampaui cinta makhluk kepada makhluk lainnya.

1. Nikmat Hidup yang Tak Terhitung

Setiap kali kita terbangun dari tidur, sebenarnya kita sedang merasakan rahmat besar dari Allah. Dalam tidur, nyawa kita seolah “dipegang” oleh-Nya, dan hanya dengan izin-Nya kita bisa hidup kembali di pagi hari.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

“Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan.”
(QS. Az-Zumar [39]: 42)

Ayat ini menegaskan bahwa setiap kali kita bangun dari tidur, sebenarnya itu adalah bukti cinta dan rahmat Allah karena kita diberi kesempatan kedua untuk hidup dan beribadah.


2. Panggilan Subuh: Wujud Cinta Kita kepada Allah

Bangun untuk salat Subuh bukan sekadar rutinitas ibadah, tetapi merupakan bukti cinta dan kesetiaan seorang hamba kepada Tuhannya. Ketika seluruh dunia masih terlelap, orang yang beriman memilih untuk berdiri, berwudhu, dan menghadap Allah dalam ketenangan pagi.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barang siapa melaksanakan salat Subuh, maka ia berada dalam jaminan Allah.”
(HR. Muslim no. 657)

Betapa indahnya janji ini — orang yang menjaga salat Subuh akan berada dalam perlindungan langsung dari Allah. Maka jika kita sering terlewat Subuh, itu bukan sekadar kehilangan waktu ibadah, tapi juga kehilangan kesempatan untuk berada dalam kasih dan perlindungan Allah.


3. Cinta Allah yang Tak Pernah Menuntut Balasan

Cinta manusia sering disertai syarat dan harapan. Namun cinta Allah adalah cinta yang tanpa pamrih. Meski kita banyak salah, Allah tetap menurunkan rezeki, menjaga kesehatan, dan menutupi aib kita.

Allah berfirman:

“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS. An-Nahl [16]: 18)

Ayat ini menggambarkan betapa luasnya kasih sayang Allah — bahkan ketika manusia berulang kali mengecewakan-Nya, Allah tidak berhenti memberi nikmat dan kesempatan untuk bertaubat.


4. Renungan dan Ajakan

Mari kita renungkan, berapa kali kita menunda-nunda salat, melalaikan Subuh, namun tetap berharap rezeki lancar dan hidup bahagia? Padahal setiap napas yang kita hirup adalah bukti cinta Allah yang tidak pernah berkurang sedikit pun.

Mulai hari ini, jadikan bangun Subuh bukan beban, tetapi bukti cinta dan syukur kita kepada Allah. Sebab cinta sejati adalah ketika kita tetap berusaha mendekat, meskipun sering terjatuh.


Penutup

Cinta Allah adalah cinta yang paling tulus, tanpa syarat, tanpa pamrih, dan tanpa batas waktu. Tugas kita hanyalah berusaha membalasnya dengan ketaatan dan rasa syukur, walau sekecil apa pun.

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”
(QS. Ar-Rahman [55]: 13)