Setiap manusia pasti pernah terjatuh dalam dosa. Ada yang berusaha bangkit dengan bertaubat, namun terkadang kembali lagi pada kesalahan yang sama. Inilah yang sering membuat hati gelisah: bagaimana cara agar taubat benar-benar tulus, diterima, dan bertahan lama, bukan sekadar janji yang mudah diingkari?
Dalam Islam, taubat nasuha adalah jalan yang diperintahkan Allah sebagai bentuk kembalinya seorang hamba dengan hati yang bersih. Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya. Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai…” (QS. At-Tahrim: 8)
Taubat yang sejati dimulai dengan penyesalan yang muncul seketika ketika seseorang sadar telah berbuat salah. Rasa bersalah itu bukan hal yang biasa, melainkan tanda bahwa hati masih hidup dan Allah masih membuka jalan untuk kembali. Rasa gelisah, tidak tenang, dan ingin memperbaiki diri sebenarnya adalah bentuk kasih sayang Allah. Dia tidak pernah meninggalkan hamba-Nya, bahkan ketika berkali-kali jatuh, justru dengan penyesalan itu Allah menunjukkan bahwa pintu rahmat-Nya selalu terbuka.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Setiap anak Adam pasti banyak berbuat dosa, dan sebaik-baik orang yang banyak berbuat dosa adalah yang banyak bertaubat.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah)
Namun, taubat tidak berhenti pada penyesalan semata. Ujian sesungguhnya adalah ketika godaan datang kembali. Pada saat itulah seorang hamba dituntut untuk “mematikan” keinginan terhadap dosa, seakan-akan hatinya benar-benar mati terhadap maksiat itu. Jika dorongan untuk berbuat dosa segera diputus sejak awal, maka peluang untuk terjerumus lagi akan jauh lebih kecil.
Allah menggambarkan sikap orang beriman dalam firman-Nya:
“Dan orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, mereka ingat kepada Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka. Dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali Imran: 135)
Kenyataannya, banyak orang mengalami pola jatuh bangun: berbuat dosa, bertaubat, lalu tergelincir kembali. Hal ini memang lumrah, namun bukan berarti taubat kita sia-sia. Selama taubat itu dilakukan dengan hati yang sungguh-sungguh, Allah tetap menerima dan mengampuni. Dalam sebuah hadits qudsi, Rasulullah ﷺ bersabda bahwa seorang hamba yang berulang kali memohon ampun tetap akan diampuni, selama ia tidak lelah kembali kepada Rabb-nya (HR. Bukhari & Muslim).
Maka, yang perlu ditekankan adalah kesungguhan dalam bertaubat. Taubat nasuha bukan sekadar ucapan istighfar di lisan, melainkan sebuah perjalanan panjang yang menuntut kesadaran, kewaspadaan, dan usaha menjaga diri. Perasaan benci dan jijik terhadap dosa yang pernah dilakukan akan menjadi benteng batin yang kuat agar kita tidak lagi mengulanginya.
Pada akhirnya, tujuan taubat adalah perubahan hati. Bila hati sudah berubah, maka pikiran, ucapan, dan perbuatan pun akan ikut berubah. Taubat nasuha bukanlah ritual sesaat, melainkan lahir dari keinginan mendalam untuk mendekat kepada Allah dan meninggalkan larangan-Nya.