Selasa, 24 Feb 2026

Kondisi Terkini Sudan: Ribuan Warga Tewas Setelah RSF Kuasai Kota El Fasher

Admin Amina 03 Nov, 2025
Kondisi Terkini Sudan: Ribuan Warga Tewas Setelah RSF Kuasai Kota El Fasher

Ribuan warga dilaporkan tewas di Kota El Fasher, ibu kota negara bagian Darfur Utara, setelah pasukan paramiliter Rapid Support Forces (RSF) berhasil merebut kota tersebut pada Minggu, 26 Oktober 2025. El Fasher merupakan benteng terakhir pasukan pemerintah Sudan, Sudanese Armed Forces (SAF), di wilayah Darfur. Kejatuhan kota ini menandai kemenangan besar bagi RSF sekaligus membuka babak baru dalam perang saudara yang telah berlangsung lebih dari dua setengah tahun.

Selama 18 bulan terakhir, El Fasher hidup dalam kepungan ketat RSF. Semua akses terhadap bahan makanan, air, dan obat-obatan ditutup sepenuhnya. RSF bahkan membangun barikade sepanjang 56 kilometer, menutup jalur masuk bantuan sekaligus mencegah warga melarikan diri. Akibatnya, lebih dari satu juta warga sipil terperangkap tanpa pasokan kebutuhan dasar, dan banyak yang terpaksa bertahan hidup dengan memakan pakan ternak.

Menurut laporan militer Sudan, sedikitnya 2.000 orang tewas sejak awal serangan, sementara jaringan dokter independen Sudan memperkirakan korban bisa mencapai 1.500–2.500 jiwa. Sejumlah organisasi kemanusiaan dan kelompok hak asasi manusia melaporkan adanya pembunuhan massal, penahanan warga sipil, hingga serangan terhadap rumah sakit. RSF juga dikabarkan mengeksekusi warga yang mencoba melarikan diri, dengan dugaan kuat adanya motif etnis dalam serangan tersebut.

Temuan dari Humanitarian Research Lab (HRL) di Universitas Yale memperkuat laporan tersebut. Analisis citra satelit menunjukkan adanya perubahan warna tanah dan kumpulan objek yang mengindikasikan lokasi pemakaman massal, bukti visual yang tidak terlihat sebelum kota itu direbut RSF.

Lebih dari 26.000 orang berhasil melarikan diri dari El Fasher dalam dua hari terakhir, kebanyakan berjalan kaki menuju Tawilah, sekitar 70 kilometer di barat kota. Namun, sekitar 177.000 warga sipil masih terjebak di dalam kota yang kini dikuasai RSF.

Kekerasan juga dilaporkan menyebar ke Kota Bara di negara bagian Kordofan Utara, yang baru saja direbut RSF pada 25 Oktober 2025. Di sana, pasukan RSF dilaporkan menyerang warga sipil serta pekerja kemanusiaan. Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah mengonfirmasi bahwa lima relawan mereka tewas dan tiga orang lainnya hilang. Kota Bara terletak hanya 59 kilometer dari Al-Ubayyid (El Obeid), wilayah strategis yang menjadi jalur penghubung antara Darfur dan ibu kota Khartoum.

Saat ini, Al-Ubayyid, yang kaya akan sumber minyak, masih dikuasai militer Sudan, namun RSF mulai mengepungnya. Jika kota itu jatuh, maka RSF akan menguasai jalur utama menuju Khartoum, membuat pasukan pemerintah terisolasi di wilayah timur dan utara negara tersebut.

Dengan tumbangnya El Fasher, RSF kini secara de facto menguasai hampir seluruh wilayah Darfur dan mulai membentuk pemerintahan tandingan di Sudan bagian barat. Pemimpin militer Sudan, Jenderal Abdel Fattah al-Burhan, mengakui penarikan pasukan dari El Fasher dilakukan untuk menghindari korban sipil lebih banyak, tetapi menegaskan akan melakukan serangan balasan.

Sementara itu, pemimpin RSF Mohamed Hamdan “Hemedti” Dagalo mengklaim bahwa pihaknya berjuang untuk menyatukan Sudan di bawah sistem demokrasi sejati, meski ia juga mengakui adanya pelanggaran terhadap warga sipil di El Fasher. Dagalo menyebut bahwa tim penyelidik internal RSF telah dikirim untuk menyelidiki kasus tersebut dan berjanji akan menghukum anggota pasukan yang terbukti melakukan kejahatan.

Perang saudara di Sudan sendiri meletus sejak April 2023, dipicu oleh konflik internal antara Dagalo dan al-Burhan terkait rencana integrasi RSF ke dalam militer nasional. Pertikaian tersebut kemudian berkembang menjadi konflik bersenjata besar yang hingga kini telah menewaskan lebih dari 40.000 orang dan memaksa sekitar 12 juta warga mengungsi dari rumah mereka.